Senin, 11 Juli 2011

KUNJUNGAN HAYAM WURUK KE BLITAR

KUNJUNGAN HAYAM WURUK KE BLITAR

Oleh: Ferry Riyandika

Kakawin Nāgarakrtâgama atau juga disebut dengan nama Kakawin Desawarnana (Deśawarnana merupakan gubahan dari Mpu Prapañca pada tahun 1287 Saka (1365 Masehi). Kakawin ini menguraikan keadaan Majapahit dalam masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, raja yang bertakhta dari tahun 1350 sampai 1389 Masehi. Bagian terpenting teks ini adalah menguraikan perjalanan dengan tujuan untuk mengelilingi dan berkunjung ke daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit pada waktu itu, khususnya di wilayah Jawa Timur. Penulisan atau penelitian ini akan ditekankan perjalanannya menuju Blitar, Lodaya, Daha, dan Janggala guna untuk menentukan keletakan desa-desa yang dilalui pada masa Hayam Wuruk. Dari uraian Nagarakrtagama disebutkan sebagai berikut.

Perjalanan Hayam Wuruk Tiap Tahun

“… Yan tan mangka mareng phalah mareki jong hyang acala pati bhakti sadara, pantes yan panulus dhateng ri balitar mwang-i jimur-i silahritalengong, mukyang polamaning dahe kuwu ri lingga mara bangunika lanenusi, yan ring janggala lot shaba nripati ring surabhaya manulus mareng buwun….”

Terjemahan:

“….. bila tidak demikian Baginda pergi ke Palah memuja Hyang Acala Pati, dengan bersujud, biasa juga terus ke Balitar dan Jimur(Riana, 2009: 116).


Kunjungan ke Palah, Balitar dan Jimur

Nama Palah merupakan nama sebuah tempat suci yang termuat dalam prasasti di Komplek Candi Penataran. Dalam prasasti yang berangka tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi yang dikeluarkan oleh Raja Crengga dari kerajaan Kadiri, menyebutkan tentang peresmian sebuah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah. Menurut para sarjana yang dimaksud Palah adalah Panataran. Candi Panataran ditemukan pada tahun 1815, tetapi sampai tahun 1850 belum banyak dikenal. Penemunya adalah Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826), Letnan Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Inggris yang berkuasa di Negara Indonesia. Raffles bersama-sama dengan Dr.Horsfield seorang ahli ilmu alam mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang berjudul "History of Java" yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian hari diikuti oleh para peneliti lain yaitu: J.Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan N.W.Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventarisasi di kompleks percandian Panataran.

Sepertinya kedudukan Candi Panataran digunakan sebagai kuil Nagara (state temple) yang diresmikan pada jaman Raja Jayanegara dari Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328. Sebutan Hyang Acala pati adalah pemujaan kepada raja Gunung (Girindra). Pemilihan lokasi dengan latar belakang gunung bukanlah secara kebetulan. Pendirian bangunan suci Palah dimaksudkan sebagai Candi Gunung, yakni candi yang diperuntukkan keperluan memuja gunung. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk dapat “menetralisasi” atau menghindarkan segala mara bahaya yang disebabkan oleh gunung. Pemujaan kepada Hyang Acalapati adalah juga pemujaan kepada Raja Gunung (Girindra), jadi bersifat Siwais (Wisnoewardhono, 1988: 32).

Gunung yang dimaksud adalah Gunung Kelud yang sering memuntahkan lahar panas ataupun lahar dingin setiap saat. Pernyataan dalam Nagarakertagama ini semakin memperkuat tentang keberadaan Candi Panataran, yang pada waktu itu disebut dengan nama “Palah”.

Mengenai Candi Panataran atau Rabut Palah bukan merupakan candi pendharmaan, karena merupakan kompleks yang relatif luas. Rabut Palah adalah candi kerajaan yang telah disucikan sejak zaman Kadiri hingga periode akhir Majapahit, jadi masa berfungsinya percandian itu membentang sejak temuan prasasti tahun 1197 Masehi (jaman Kadiri) hingga tahun 1454 Masehi dari zaman kemunduran Majapahit (Kempers, 1959: 90).

Selain disebutkan sebagai salah satu tujuan perjalanan Hayam Wuruk diatas, Rabut Palah hingga awal abad ke-16 masih ramai dikunjungi oleh para penziarah.
Naskah Sunda kuna yang disusun oleh Bujangga Manik menceritakan pula tentang Rabut Palah. Bujangga Manik melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa di awal abad ke-16. Dalam perjalanan tersebut ia mengunjungi beberapa tempat suci Hindu-Buddha baik di wilayah Jawa bagian tengah ataupun Jawa bagian timur. Bujangga Manik juga sempat singgah di Rabut Palah dan tinggal di kompleks bangunan suci itu sekitar satu tahun. Ia tidak hanya melakukan pemujaan di tempat itu melainkan juga meningkatkan pengetahuannya dalam bidang kesusastraan dan memperdalam bahasa Jawa. Sebelum mengunjungi Rabut Palah Bujangga Manik terlebih dahulu mendatangi Rabut Pasajen yang merupakan bangunan suci yang juga disakralkan oleh orang Jawa. Lokasi bangunan Rabut Pasajen itu letaknya di lereng yang lebih tinggi dari lokasi Rabut Palah pada lereng Gunung Kelud yang sekarang menjadi Candi Gambarwetan.

“……datang ka Rabut Pasajen, Eta hulu Rabut Palah, kabuyutan Majapahit, nu dise(m)bah ku na Jawa. Maca (a)ing Darmaweya, pahi deung Pa(n)dawa Jaya. Ti inya lunasing jobrah, aing bisa carek Jawa, bisa / aing ngaro basa. /19/. Di inya aing teu heubeui, satahun deung sataraban. Ha(n)teu betah kage(n)teran, datang nu puja ngancana, nu nye(m)bah ha(n)teu pegatna nu ngideran ti nagara……”

Terjemahan:
“……datang ke Rabut Pasajen. Itulah dataran tinggi Rabut Palah, tempat suci bagi Majapahit, yang disakralkan orang Jawa. Aku membaca Darmaweya, Bersama dengan Pandawa Jaya. Setelah itu keingintahuanku tercapai, aku bisa berbahasa Jawa, aku mampu berdwibahasa. Aku disitu tak lama, selama setahun lebih. Tidak kerasan dalam kegaduhan, kedatangan para pemuja keduniawian, para penziarah tak ada hentinya para pengunjung dari perkotaan.…..” (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 303).

Selain dari kisah perjalanan Bujangga Manik, nama Panataran juga disebut dalam Kitab Centhini yang berangka tahun 1742. Dalam kitab ini dikisahkan tentang perjalanan Raden Jayengresmi putra Sunan Giri beserta kedua santri lainnya yaitu si Gatak dan si Gatuk menuju Candi Penataran dan melihat lukisan dengan cerita jaman Sri Rama (Sumahatmaka, 1981: 15).

Setelah dari Palah (Candi Penataran), Hayam Wuruk mengunjungi Balitar. Nama Balitar sekarang dengan pasti dapat di identifikasikan menjadi sebuah kelurahan yaitu Kelurahan Blitar yang terletak di Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Nama Blitar juga disinggung dari uraiaan naskah perjalanan Bujangga Manik yang dimana diuraikan bahwa setelah dari Waliring dan Polaman, Bujangga Manik mengunjungi daerah Balitar (“…Leu(m)pang aing marat ngidul, nepi aing ka Waliring, ngalalaring ka Polaman, datang aing ka Balitar…” (“…Aku berjalan ke baratdaya, sampailah ke Waliring, aku berjalan lewat Polaman, tibalah ke Blitar……”) (Noordyun & A. Teeuw, 2009: 304).

Dari tinggalan arkeologi di Kelurahan Blitar juga terdapat kompleks makam seorang tokoh yang sebagian besar masyarakat Blitar meyakini salah satunya sebagai tempat makam Adipati Aryo Blitar. Pada halaman samping barat cungkup makam terdapat reruntuhan struktur bangunan kuno yang ditata ulang kembali. Dalam Kakawin Nagarakrtagama juga disebutkan adanya tanah sima bagi Desa Kapungkuran. Perdikan tersebut kini tetap digunakan hingga sekarang sebagai nama Dukuh di Kelurahan Blitar yang dimana terletak di selatan makam Aryo Blitar berada. Disebelah timur laut Makam Kapungkuran terdapat urung-urung (saluran air) yang terbuat dari batu bata yang menghubungkan dari daerah utara dan selatan, namun sayang sekali urung-urung tersebut kini sudah tertimbun dan di atasnya menjadi rumah. Selain itu juga ditemukan yoni yang caratnya putus, sebuah batu candi, puing-puing batu kuno dan hiasan candi kini menjadi nisan Mbah Barat Ketigo serta tinggalan lainnya berupa tiga jambangan yang terbuat dari batu andesit, batu dakon (atap gapura paduraksa).

Pada radius 500 meter ke selatan di komplek Makam Tilara dahulu telah ditemukan dinding batu batu kuno yang berfungsi sebagai dinding kolam (patirthan) yang kini menjadi sawah. Menurut Hoepermans pada tahun 1913 di Desa Blitar masih terdapat tinggalan berupa kepala kala dan prasasti yang bertarikh saka 1246 (1324 Masehi)yang kini berada di Museum Nasional (Danardhana, 1977: 18-19). keberadaan tinggalan tersebut sebagian besar tidak dapat ditemukan kembali. Kemungkinan besar dahulu tempat ini merupakan sebuah bangunan candi dan patirthan masa Majapahit.

Sebagai pendukung keletakan Kelurahan Blitar pada masa lampau pada tahun 1848 kediaman Bupati Blitar yaitu R.M Aryo Ronggo Hadinegoro di Desa Blitar dan masjid yang di bangun oleh penghulu I Blitar yaitu Kyai Imam Besari pada tahun 1820 Masehi di terjang muntahan letusan Gunung Kelud yang mengalir ke Sungai Lahar di dekat kediamannya. Selanjutnya kediamannya dipindahkan ke Kepanjenlor yang kini menjadi Kantor Bupati Blitar.

Baginda Raja melanjutkan perjalanan menuju ke Jimur. Nama Jimur hingga sekarang belum dapat diidentifikasi keberadaanya, akan tetapi nama Jimur memiliki kemiripan dengan desa-desa yang berada di wilayah Blitar. Boleh jadi nama Jimur sekarang menjadi Jlimut yang merupakan suatu dukuh yang terletak di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar, di sebelah timur Dukuh Jlimut tepatnya di Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar terdapat gundukan kecil yang menyerupai bukit kecil. Selain itu terdapat tinggalan arkeologi berupa arca berbentuk petapa dan seorang wanita. Tinggalan tersebut terletak di dekat sumber air yang sekitarnya dikelilingi beberapa pohon beringin.

Nama Jimur kemungkinan juga menjadi nama sebuah desa di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar yaitu Desa Jiwut. Warga setempat masih percaya bahwa Desa Jiwut merupakan tempat petilasan dari seorang tokoh yang bernama Ken Angrok. Dalam Kitab Pararaton disebutkan bahwa nama Jiput merupakan sebuah desa tempat lahirnya pemuda yang bersedia menjadi korban untuk pintu gerbang asrama Mpu Tapawangkeng dan agar dijelmakan ke timur Kawi yang selanjutnya bernama Ken Angrok (Padmapuspita, 1966: 47). Nama Djiput dalam Kitab Pararaton tidak menutup kemungkinan kini nama wilayah tersebut berubah menjadi Desa Jiwut. Khususnya di Dusun Lumbung, Desa Jiwut pernah terdapat beberapa tinggal-tinggalan arkeologis berupa makara, jaladwara dan batu andesit yang berbentuk seperti piramida (Knebel, 1908: 75-76).

Menurut penuturan warga setempat yang terletak di Dusun tersebut bahwa dahulu diyakini sebagai tempat bekas petilasan Ken Angrok dan memberitahukan dahulu terdapat tumpukan balok batu bata kuno besar-besar di tempat bekas petilasan tersebut namun sayang sekali keberadaanya sekarang sudah hancur dan beralih menjadi tempat ladang penduduk.

Sedangkan di pemakaman umun Dusun Klampok yang berbatasan langsung dengan Dusun Lumbung ditemukan tinggalan-tinggalan berupa beberapa balok batu bata kuno, umpak dan beberapa lumpang yang berserakan di pinggir pemakaman hingga di parit luar pemakaman. Menurut penuturan warga Dusun Klampok bahwa sejak dari dahulu lumpang tersebut sengaja di taruh atau dibuang di pemakaman guna untuk menghindari dari alamat tidak baik bila memiliki keturunan yang banyak. Selain itu juga sebuah pelipit arca pecahan dari Prasasti Kinwu yang dituliskan di balik arca Ganesha keberadaanya telah ditemukan kembali di Dusun Klampok, Desa Jiwut (Suhadi, e.a, 1996: 30).

Kunjungan ke Lodaya

“….. Ring saka ksati suryya sang prabhu mahas ri pajang iniringi sanagara, ring sakangga nagaryyama sira mare lasemahawani tiranang pasir, ri dwaradri panendu panglengengireng jaladhi kidulatut wana laris, ngkaneng lodhaya len teto ri sideman jinajahira langonya yenitung….”

Terjemahan:

“….1279 (1357 Masehi) bercengkerama ke laut selatan berjalan lewat hutan, di Lodaya, lain pula Tetu, di Sediman juga dikunjungi keindahannya juga dinikmati......” (Riana, 2009: 117).

Wilayah daerah Lodaya merupakan nama lama untuk ibukota eks Kawedanan Lodoyo di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar yang terletak di selatan Sungai Brantas. Hingga kini nama Lodoyo masih melekat dipergunakan dalam rujukan bagi penduduk Blitar yang berada di daerah selatan Brantas. Daerah Lodoyo yang kini menjadi Kecamatan Sutojayan merupakan daerah yang dibatasi oleh beberapa bukit yang menjulang di daerah sekitarnya. Sebelah timur berbatasan dengan Hutan Kaulon yang terletak di barat Kecamatan Binangun, sebelah selatan dibatasi oleh Samudra Hindia, sebelah Barat berbatasan dengan Gunung Betet yang terletak di Timur Kecamatan Kademangan, sedangkan batas Utara adalah Sungai Brantas.

Di Lodoyo pernah ditemukan arca katak yang memuat angka tahun Saka 1213 atau 1291 Masehi. (Knebel, 1908: 34). Selain itu pernah ditemukan pecahan fragmen arca Ganesha dan Yoni (Arnawa, 1991: 37-38). Dalam Serat Centini dikisahkan tentang perjalanan Raden Jayengresmi beserta kedua santrinya yaitu si Gatak dan si Gatuk setelah lari dari Kedaton Giri menuju ke bekas istana Majapahit setelah itu ke Candi Panataran, meninggalkan tempat tersebut tiba di Dukuh Gaprang melihat arca laki-laki dan perempuan. Selanjutnya melakukan perjalanan ke Lodaya yang terdapat Gong yang bernama Kyai Pradah (Suhatmaka, 1981: 15).

Di Desa Gaprang hingga sekarang terdapat sebuah situs yang dimana diantaranya terdapat arca yang memegang pallus dan tinggalan lainnya. Sedangkan Gong Kyai Pradah yang terletak di Lodoyo sampai sekarang tetap dipergunakan sebagai upacara ritual menjelang awal bulan Maulud atau Rabiul Awal yang disebut Siraman Gong Kyai Pradah. Gong ini masih di simpan di utara alun-alun Lodoyo (Bintoro, e.a., 2002: 73-74). Menurut cerita rakyat, Raja Hayam Wuruk, raja Majapahit mempunyai paman bernama Raden Condromowo (Condrogeni) yang berkedudukan di Ngatas Angin saudara dari Kerajaan Bantar Angin Lodoyo bernama Prabu Klono Djatikusumo. Raja-raja ini ditugaskan oleh Hayam Wuruk untuk membuat kompleks percandian di Ngetos (Harimintadji e.a. 1994: 137-138).

Nama Tetu dalam uraian Kakawin Nagarakrtagama sampai sekarang identifikasi tempatnya belum terlacak dan diketahui. Namun Tetu memiliki arti papan yang biasanya merupakan bagian dari bale (atap) atau dapat juga berarti kereta perang (Zoetmulder, 1995: 1245). Nama Tetu sekarang boleh jadi terletak di sebelah barat perempatan pasar Lodaya (Sutojayan) atau alun-alun Lodaya yang sekarang disebut Gunung Betet yang terletak di Desa Kembangarum, Kecamatan Sutojayan, kemungkinan Tetu (“tet-u”) tinggal menjadi “tet” kini berubah menjadi “Be-tet”. Apakah Tetu sekarang berubah menjadi Gunung Betet harus ada peninjauan lebih lanjut akan nama daerah ini guna untuk memperjelas keletakan daerah yang dilalui oleh Hayam Wuruk.

Sama halnya dengan nama Sediman yang keletakannya belum juga dapat di ketahui. Namun dari namanya, Sediman memiliki kemiripan dengan nama Desa Kademangan (Sa-deman yang kini berubah menjadi Ka-demang-an). Kemungkinan besar letaknya berada di Kademangan bagian timur yaitu di Desa Darungan, Kecamatan Kademangan. Di Desa Darungan tepatnya di Dusun Besole pada tahun 2006 telah ditemukan Gapura Bentar Besole. Bangunan utamanya adalah tangga masuk berbahan dasar bata merah, yang berada ± 2 meter di bawah permukaan tanah. Kemungkinan gapura tersebut dibangun pada masa kerajaan Kadiri dan dimanfaatkan hingga masa Majapahit. Terdapat sebuah prasasti yang memiliki pahatanan candra kapala lancana dan angka tahun 1054 Saka atau 1051 Saka pada masa pemerintahan Bameswara dan batu bata kuno utuh berserakan di areal persawahan Dusun Besole (Suhadi, e.a, 1996: 24). Kemungkinan Gapura ini merupakan tempat pelabuhan sungai dan batu bata kuno tersebut boleh jadi merupakan tempat pemukiman yang terletak di pinggir selatan Sungai Brantas, mengingat jaraknya 100 meter antara Situs Besole dengan Sungai Brantas. Jadi arah perjalanan Hayam Wuruk adalah menyeberangi sungai hingga tiba di Sedimen (Besole), selanjutnya menuju ke Tetu (Betet) dan sampai ke Lodoyo. Sepanjang perjalanan di wilayah ini merupakan hutan yang lebat dan berbukit. Maka tidak mengherankan apabila hutan ini dahulu memiliki keindahan dan disenangi raja Hayam Wuruk.

Kunjungan Hayam Wuruk ke Simping

“…. Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/- tha muja mara ri palah sabrtya, {30a} jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe. Janjan sangke balitarangidul tut margga, sangkan poryyang gatarasa tahenyadoh wwe, ndah prapteng lodhaya sira pirang ratryangher, sakterumning jaladhi jinajah tut pinggir. Sah sangke lodhaya sira manganti simping, sweccha nambya mahajenga ri sang hyang dharma, sakning prasada tuwi hana dohnya ngulwan, na hetunyan bangunenanga wetan matra. Mwang tekang parimana ta pwa pinatut wyaktinya lawan prasasti, hetunyan tinapan sama padhinepan purwwadhi sampun tinugwan, ndan sang hyang kuti ring gurung gurunginambil bhumya sang hyang dharma, gontong, wisnu rareka bajradharaneka pangheli sri narendra. Rayuntuk sri narapatya margga ri jukung joyana bajran pamurwwa, prapta raryyani bajra laksmi namegil ring surabhane sudharmma, enjing ryangkatiran pararyyani bekel sonten dhateng ring swarajya, sakweh sang mangiring muwah te-/- lasumantuk ring swawesmanya sowing…..”

Terjemahan:

“… lalu pada tahun saka Tritanurawi—1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka—April-Mei, Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarur-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lawang Wentar Manguri Balitar dan di Jimbe. Tidak peduli dari Blitar menuju ke selatan sepanjang jalan, mendaki kayu-kayu mengering kekurangan air tak sedap dipandang, maka Baginda Raja tiba di Lodaya beberapa malam tinggal disana, tertegun pada keindahan laut dijelajahi menyisiri pantai. Baginda Raja meninggalkan Lodaya menuju Desa Simping, dengan rela seraya memperbaiki tempat memuja leluhur, candi itu rusak tampak bergeser ke barat, itulah sebabbya direnovasi digeser agak ke timur. Serta merta penataannya diperbaikan disesuaikan bunyi prasasti, lalu diukur yang benar dengan depa di ujung timur telah dibuat tugu, maka wihara di Gurung-Gurung diambil halamannya untuk tempat candi, Gontong, Wisnurare di Bajradarana itu sebagai penggantinya oleh Baginda Raja. Baginda pulang melalui Jukung, Joyana, Bajran terus ke timur, berhenti di Brajalaksmi bermalam di Candi Surabawana, paginya berangkat pula berhenti di Bekel sore hari tiba di istana, semua pengiring telah pulang ke rumahnya masing masing….” (Riana, 2009: 302-306).

Uraian nama Palah dan Balitar dapat melihat dan dibaca dalam kunjungan Hayam Wuruk ke Palah untuk memuja Hyang Acala Pati dan kunjungan ke Balitar di atas. Sedangakan untuk nama Lawang Wentar, menurut para ahli sekarang berubah menjadi Sawentar. Di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar terdapat tinggalan arkeologi berupa Candi Sawentar. Bangunan ini mirip dengan Candi Kidal yang terletak di daerah Tumpang, Malang. Pada bagian candi masih utuh namun bagian atapnya sudah runtuh. Tingginya bangunan keseluruhan adalah sekitar 15 meter, sekarang hanya tinggal 10,65 meter. Dalam ruangan atau di dalam relung candi, terdapat yoni dan alas tumpuannya berelief garuda kecil, yang dimana dalam agama Hindhu merupakan wahana atau kendaraan Dewa Wisnu. Di atas ruang terdapat relief Dewa Surya yang menaiki seekor kuda dengan telinganya seperti kelelawar. Atap berbentuk piramida yang tinggi, terdiri dari tiga satuan lapisan horisontal masing-masing mendukung satu rangkaian bentuk menara kecil. Puncak membentuk kotak (Kempres, 1959: 73).

Di sebelah selatan tepatnya dibelakang pasar pada tahun 1999 diadakan penggalian oleh Balai ArkeologibYogjakarta. Dalam hasil penelitian menampakkan dan menghasilkan suatu struktur bangunan yang disebut Situs Sawentar II. Pada menggalian tersebut juga menemukan batu ambang miniature candi berangka tahun 1358 Saka (1436 Masehi), suatu relief seekor naga bermahkota menggigit matahari yang merupakan candrasangkala “Nagaraja anahut surya yang berarti 1318 Saka (1396), candrasangkala “Ganeca inapit mong anahut surya (1328 Saka/ 1406 Masehi) (Tjahjono & Nurhadi Rangkuti, 2000: 35).

Selain itu, Hayam Wuruk melanjutkan perjalanan mengunjungi Jimbe. Nama Jimbe hingga sekarang tetap bernama Desa Jimbe yang terletak di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Di desa ini terdapat suatu tinggalan arkeologi berupa kekunaan Jimbe, sedangkan warga setempat menyebutnya dengan “Mbah Umyang”. Tinggalan yang berada di situs ini berupa beberapa fragmen arca, arca nandi, beberapa batu candi, umpak, bagian kepala katak, bak air, lumpang batu, dan fragmen yoni (Arnawa, 1991: 3-10). Selain itu juga terdapat batu bertulis yang merupakan angka tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi (Bandi, e.a., 1984/ 1985: 87).

Dari uraian Nagarakrtagama diatas disebutkan bahwa setiba di Lodaya rombongan Hayam Wuruk menginap di daerah Lodaya beberapa malam. Di Kawasan Kecamatan Sutojayan (Lodoyo) selain ditemukan arca katak, arca Ganesha dan Yoni diatas terdapat tinggalan arkeologi masa Hindhu-Buddha begitu banyak, diantaranya adalah tinggalan di Dukuh Cungkup, Desa Bacem Kecamatan Sutojayan terdapat situs berupa Candi Bacem yang sebagian besar terbuat dari bahan batu bata. Situs ini terdiri dari dua buah bangunan candi. Di bawah candi terdapat gorong-gorong atau saluran air yang terbuat dari batu, menurut juru kunci Candi Bacem masih tertanam dibawah tanah sedalam 1,5 m.

Selain itu, di Desa Pandanarum terdapat tinggalan berupa kronogram berbunyi 1258 Saka atau 1336 Masehi. Kronogram tersebut terbuat dari batu gamping (Simanjutak, 1982/1983: 36). Menurut penuturan warga setempat terdapat sebuah arca laki-laki yang oleh warga diberi nama “Arca Jaka Tarub”, namun tinggal tubuhnya saja. Situs ini terletak di dekat sumber air “Mbelik Jambu”. Terdapat juga tinggalan-tinggalan lainnya di Desa Ngeni, Kecamatan Wonotirto yaitu berupa Prasasti di Gunung Nyamil yang berbahan dasar dari batu gamping. Huruf prasasti mirip dengan huruf prasasti di Candi Sukuh. Prasasti tersebut memiliki empat baris, pada baris keempat menurut Drs. Soekarto merupakan sangkalan yang berarti 1210 Saka (1288 Masehi). Terdapat juga arca seorang tokoh yang bagian kepalanya sudah pecah, warga setempat menyebutnya “Arca Mbah Putri”, tinggalan lainnya berupa beberapa umpak batu, dan batu dakon. Kemungkinan pada jaman dahulu digunakan sebagai bangunan permanen (Simanjutak, e.a., 1982/ 1983: 34-36).

Mengingat keadaan jalan yang menanjak dan terjal untuk menuju pantai laut selatan Lodaya, Hayam Wuruk menginap beberapa hari di salah satu di daerah tersebut, kemungkinan Hayam Wuruk menjurus langsung keselatan dan menginap di Desa Ngeni, mengingat banyaknya tinggalan arkeologi dan letaknya berdekatan dengan Desa Ngadipuro yang wilayah bagian selatan berupa hamparan laut selatan yang begitu banyak dan kaya akan keindahannya terutama Pantai Serang yang merupakan batas antara Desa Ngadipuro, KecamatanWonotirto dengan Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Pantai Dung Dowo, Pantai Bakung, Pantai Selok Kancil, dan Pantai Benelan yang kesemuanya terletak di Desa Ngadipuro.

Setelah mengunjungi untuk menikmati keindahan pantai selatan, Hayam Wuruk kembali melakukan perjalanan menjurus ke arah barat laut Kecamatan Wonotirto dan tiba di Simping untuk pemujaan leluhurnya. Candi Simping kini terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Kurang lebih 10 km sebelah selatan Kota Blitar, kurang lebih 3 km sebelah selatan dari aliran Sungai Brantas dan 2 km ke utara dari Pegunungan Kapur Selatan.. Kondisi candi sekarang sudah runtuh tinggal batur candi saja sehingga tidak menyisakan bentuk kaki, tubuh, dan atapnya. Batur candi tersebut bagian dalamnya terbuat dari bahan batu bata, sedangkan untuk bagian luarnya terbuat dari batu andesit. Terdapat komponen-kompenen arsitektur seperti tubuh, atap, dan kemuncak candi yang sudah berserakan disekitarnya telah ditata rapi oleh pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur (Arnawa, 1991: 10-11).

Pada bagian tengah lahan dari wilayah bangunan candi terdapat komponen batur candi yang masih tersisa, terbuat dari batu bata (bagian dalam) dan batu andesit (bagian luar). Kemungkinan batu bata yang disusun rapi disebelah utara batur candi merupakan bagian dari candi. Dilihat dari batur candinya kemungkinan dahulu Candi Simping memiliki ruangan. Pada bagian atas batur candi terdapat sebuah alas (pedestal) arca yang terbuat dari batu andesit berbentuk bujur sangkar. Permukaan pedestal ini dipahatkan seekor kura-kura (akupa) menghadap kebarat, pada punggung kura-kura terdapat pahatan berupa empat ekor naga yang saling melilitkan kepala dan ekornya melingkari tonjolan persegi yang ada di titik tengah permukaan alas (pedestal). Menurut W. F. Stutterheim mengindentifikasikan bahwa salah satu arca yang disimpan di Museum Nasional Jakarta berasal dari Candi Simping, arca tersebut adalah Hari-Hara (Hari sebutan Wisnu pada bagian tubuh kiri dan Hara sebutan Siwa pada tubuh bagian kanan).Ukuran batur candi adalah 835 cm x 835 cm, pada masing-masing sisi terdapat penampil dan halaman depan penampil selebar 350 cm. tinggi batur candi 65 cm (Wati, 2008: 58-59).

Di atas pedestal (alas) dahulu terdapat arca perwujudan dari raja yang didharmakan di Candi Simping. Dalam Negarakrtagama dalam pupuh 47/ 3 (Muljana, 2006: 370) disebutkan bahwa pada Tahun Saka surya mengitari tiga bulan (1231 C/ 1309) Sang prabu mangkat, ditanamkan di dalam pura Anthahpura, begitu nama makam beliau Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa. Selain itu dalam reruntuhan bangunan candi sekarang terdapat tinggalan-tinggalan lain berupa kepala kala, relief berupa gambaran hewan, tumbuhan yang distilir, dan balok-balok batu andesit dan batu bata.

Pada kunjungan tersebut diadakan pemugaran candi yang sesuai dengan Kitab Nagarakrtagama dikatakan bahwa candi rusak tampak bergeser ke barat dan akan digeser agak ke timur. Selain itu dilakukan penataan ulang disesuaikan bunyi prasasti, lalu diukur yang benar dengan depa di ujung timur telah dibuat tugu. Selain itu untuk tempat bangunan candi Hayam Wuruk mengambil halaman dari wihara di Gurung-Gurung, dan halaman wihara tersebut diganti dengan Gontong, Wisnurare di Bajradarana. Untuk nama wihara di Gurung-Gurung kemungkinan terletak di daerah Pegunungan Kapur di sebelah selatan dan barat Candi Simping yang kini berubah menjadi Hutan Gogowurung (Gogo nama tanaman padi, Wurung artinya gagal). Sedangkan Gontong belum dapat diidentifikasi keletakannya kemungkinan masih terletak disekitar Candi Simping, namun Dukuh Saren, Desa Ngeni, Kecamatan Wonotirto yang terletak di aliran Sungai Sat terdapat beberapa cerukan-cerukan pada batu yang menyerupai gentong di sekitar sungai. Sedangkan nama Wisnurare di Bajradarana sekarang tinggal menjadi Dukuh Saren dan Banjarsari yang terletak di Desa Ngeni, Kecamatan Wonotirto.

Setelah dari Candi Simping Baginda Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan pulang ke Istana Majapahit melewati Jukung. Nama Jukung dalam bahasa Jawa Kuna merupakan nama jenis perahu kecil atau “jung” yang terbuat dari batang kayu atau memiliki arti diantara watek i jro (Zoetmulder, 1995: 429). Boleh jadi Hayam Wuruk menyeberangi Sungai Brantas dengan perahu kecil atau perahu penyeberangan yang sekarang terletak antara Desa Kademangan dengan Dusun Boro, Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanan Kulon. Pada tahun 1959 masih terdapat tambangan di daerah ini, namun sekarang tidak berfungsi lagi karena aliran air sungai semakin dangkal. Selanjutnya rombongan Hayam Wuruk tiba di Joyana. Nama Joyana tidak menutup kemungkinan sekarang berubah menjadi Desa Dermojayan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Diantara Sungai Brantas menuju Desa Dermojayan pada tahun 2010 di Dukuh Sumberbuntung, Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon telah ditemukan beberapa tinggalan arca dewa-dewa yang terbuat dari tanah liat (terakota) dan yoni kecil yang sekarang masih di simpan di BP3 Trowulan, selain itu terdapat balok-balok batu bata kuno yang berserakan di areal penemuan tersebut. Situs ini terletak di areal pesawahan yang digunakan untuk pembuatan batu bata. Di sebelahnya terdapat aliran sungai. Pucung memiliki pengertian botol, wadah gelas, mengunjungi atau memasuki dengan diam (Zoetmulder, 1995: 868). Apakah Jukung sekarang berubah menjadi Pucung dan karena terletak di dekat aliran sungai berubah menjadi Kalipucung.

Apabila pendapat ini benar, maka sesuai dengan rutenya maka perjalanan Hayam Wuruk setelah menyeberangi Sungai Brantas, beliau membelok ke barat menyisiri Sungai Brantas melewati Dusun Cobanteng, Desa Ngaglik yang memiliki tinggalan berupa batu bertarikh Saka 1259 (1337 Masehi), batu candi, umpak, fragmen arca dan arca binatang serta relief sudut bangunan (Arnawa, 1991: 32-37) membelok ke utara menyisiri Sungai Kalipucung tiba di Dukuh Sumberbuntung, Desa Kalipucung. Selanjutnya berbelok lagi kebarat tiba di Desa Joyana (Dermojayan).

Nama Bajran belum dapat diketahui hingga saat ini. Bajra atau Braja memiliki arti yang keras, kilat, halilintar (senjata Indra), bentuk yang serupa dengan lingkaran cakram, intan permata dan bias berarti api kemarahan (Zoetmulder, 1995: 97; 133). Akan tetapi menilik dari nama Bajra atau Braja, nama ini juga memiliki kemiripan dengan daerah-daerah di Kabupaten Kediri. Diantaranya adalah Banjaranyar di Kecamatan Kras dan Desa Banjarrejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Menurut sumber lisan dari masyarakat dekat pasar di Ngadiluwih, bahwa tempat pasar tersebut dahulu terdapat arca-arca yang di kubur di bawah pasar. Apabila pendapat yang dikemukakan ini benar maka tepat sekali apabila rute perjalanan Hayam Wuruk dari Joyana (Dermojayan) menjurus langsung ke utara yaitu menuju ke Bajran yang berada di Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih.

Selanjutnya rombongan Hayam Wuruk tiba di Brajalaksmi. Nama daerah ini juga belum dapat ditemukan keletakannya. Sesuai dengan rutenya hingga sampai di Bajran yang letaknya di Kecamatan Ngadiluwih, maka Brajalaksmi harus di cari disekitar wilayah tersebut, tepatnya disebelah utara atau timur. Di sebelah utara Desa Banjarrejo terletak kawasan Kota Kediri. Menurut catatatan Knebel (1908: 234, 265-266), di Kota Kediri tepatnya Kampung Cina di Kota Kadiri terdapat tinggalan-tinggalan arkeologi masa Hindhu-Buddha yaitu berupa arca Laksmi, Dwarapala, Siwa, dan Durga. Sedangkan di wilayah bagian timur yaitu di Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten pernah ditemukan arca Caitya dan Bodhisatwa. Apakah Brajalaksmi ini merupakan suatu tempat yang diperuntukkan diperuntukkan kepada Dewi Laksmi yang kini pesebarannya terletak di Kota Kadiri perlu diadakan penelitian ulang.

Nama Candi Surabawana oleh para ahli sejarah dan arkeologi ditujukan untuk tinggalan candi yang terletak di Dusun Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Jadi rombongan Hayam Wuruk apabila Brajalaksmi terletak di Kampung Cina atau di Desa Panjer ini dibenarkan maka arah rute perjalanannya ke timur laut. Jadi urain dari Prapanca bahwa arah yang dilalui Hayam Wuruk untuk menuju ke Candi Surabawana bukanlah ke timur melainkan ke arah timur laut. Setelah menginap di Candi Surabawana Hayam Wuruk beserta rombongannya menuju ke Bekel dan berhenti, selanjutnya pada saat sore hari tiba di Istana Majapahit.

Nama Bekel merupakan nama jabatan untuk lurah suatu daerah. identifikasi Bekel dapat dijumpai dalam tamra prasasti yang bertarikh Saka 893 (971 Masehi) ditemukan di Pelem, Kabupaten Mojokerto dengan nama juru ri bkel sebagai salah satu peserta dalam upacara penetapan sima (Brandes, 1919: 116-119). Dalam prasasti tersebut juga di sebut juru ri kanta, juru ri kijangan, juru ri kuwu, juru ri lekan, juru ri telaga, dan juru ri walasah. Nama juru tersebut hingga kini sebagian besar terletak di daerah Kabupaten Kediri seperti juru ri kanta (Sungai Konto) dan juru ri kijangan (Desa Kunjang). Selain itu juga terdapat Dusun Bekel, yang terletak di Desa Kepuhkajang, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang.

Mengingat akan rute perjalanan Hayam Wuruk bila sore tiba di istana maka lokasi Bekel haruslah di cari di dekat Candi Surabhawana. Apabila nama Bekel yang diuraikan dari Kakawin Nagarakrtagama sama dengan juru ri bkel maka di wilayah Kecamatan Bareng terdapat sebuah desa yang mirip namanya dengan Bekel yaitu Desa Pakel. Apabila pendapat ini benar maka kemungkinan rute perjalanan Baginda raja adalah dari Candi Surowono ke arah timur hingga sampai Desa Kandangan dengan menyeberangi Kali Konto dan menjurus langsung ke utara hingga sampai di Desa Pakel, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Selanjutnya rombongan raja kemungkinan besar menjurus langsung utara hingga sampai di Japanan dan Dukuhmojo. Japanan merupakan tugu batas Keraton Majapahit yang berbentuk Yoni segi lima. Sesampai di Desa Dukuhmojo rombongan Hayam Wuruk membelok ke timur dan sampai istana Kerajaan Majaphit.

Pada tahun 1363 Masehi Hayam Wuruk melakukan kunjungan lagi ke Simping untuk melihat perbaikan candi dan melakukan upacara tahap terakhir renovasi bangunan tersebut. Pada Kitab Nagarakrtagama di uraikan sebagai berikut.
“….irikanganilastanah saka nrepeswara Warnnana, mahasahasi simping sang hyang dharma rakwa siralihen, saha widhi widhanasing lwir ning saji karma tan kurang, prakasita sangadyaksa mujaryya raja parakrama. Rasika nipuneng widya tatwo padesa siwa gama, sira ta mangadhistane sang sri nr-/-pa krta rajasa, {35a} duweginulahen tekang prasada gopura mekala, prakasita sangaryya nama krung prayatna wineh wruha. Nrpatinumulih sangke simping wawang dhatenging pura, prihati tekapi gring sang matryadi matri gaja mada, rasika sahakari wreddhya ning yawa waniring dangu, ri bali ri sadheng, wyaktiny-antuk nikanayaken musuh….”

Terjemahan:

“…. Pada tahun saka (ng) Anilastanah—1285 (1363 Masehi) Baginda Raja dikisahkan, Baginda Raja pergi ke Simping konon akan memindahkan candi, lengkap dengan upacara sajen-sajen yang teratur tak ada kurangnya, Sang Arya Raja Parakrama pengawas pemujaan itu amat terkenal. Beliau terkenal mahir dalam filsafat agama Siwa, Beliau memangku jabatan pada masa Baginda Sri Kertha Rajasa, waktu dilaksanakan pembangunan prasada dengan gerbang yang bergaris, terkenal bernama Arya Krung ditugaskan untuk mengawasinya. Baginda Raja kembali dari Simping, segera tiba di Istana, Baginda sangat sedih karena Maha Patih Gadjah Mada sakit. Beliau ikut mencurahkan tenaga demi kebesaran kerajaan Jawa dahulu, di Pulau Bali, Sadeng benar-benar berkat upaya beliau musuh dapat dimusnahkan..…” (Riana, 2009: 341-343).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar